Sunday, November 15, 2015

Mencegah Jauh Lebih Baik Daripada Mengobati


Apakah diri anda seorang yang sehat? Menurut dugaan saya tidak banyak yang dapat menjawab dengan “ya”, karena, tidak sakit tidaklah sama dengan sehat. Dalam ilmu kedokteran timur, ada sebuah istilah “Penyakit Dorman”, ini menggambarkan kondisi seseorang belum jatuh sakit, tetapi juga tidak sepenuhnya sehat.

Bahkan orang-orang yang menganggap diri mereka sehat sering terganggu oleh masalah seperti konstipasi kronis atau diare, insomnia, serta leher dan bahu kaku. Gejala tersebut adalah sinyal SOS yang dikirimkan oleh tubuh anda, jika mengentengkan hal tersebut, anda mengambil risiko kondisi tersebut berkembang menjadi suatu penyakit serius.

Sehat atau tidaknya seseorang, bergantung pada apa yang dimakan dan bagaimana cara hidup orang tersebut. Akumulasi harian hal-hal seperti makanan, air, olahraga, tidur, kerja, dan stress. 

Gaya hidup panjang dan sehat ini, bukan berpatok pada produk-produk industri kesehatan dan kebugaran yang ramai dipasarkan dan diiklankan media massa. 

Apabila anda percaya hal tersebut, berarti anda tidak sungguh mengerti apa yang benar baik bagi tubuh, karena itu semua manipulasi media.

Orang-orang yang menderita penyakit gaya hidup, biasanya merokok, mengonsumsi alkohol, banyak makan protein hewani dan hampir tidak pernah mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, serta mengonsumsi produk hasil susu, yoghurt, mentega, dsb terutama sejak usia belia.

Mengapa hal-hal yang merusak lambung dan usus secara luas dianggap baik bagi kesehatan? Karena, sebagian besar orang cenderung hanya melihat satu aspek, atau satu efek, makanan atau minuman tersebut, dan bukan keseluruhan gambarnya. (Therapy)

Banyak orang terjerumus dalam kepercayaan umum mengenai kesehatan yang salah, karena ilmu kedokteran masa kini tidak memperhatikan tubuh manusia secara keseluruhan, perawatan kesehatan sudah sepenuhnya terspesialisasi. Saat memilih makanan dan minuman, pertimbangkanlah secara menyeluruh, baik atau buruk tidak dapat diputuskan hanya dengan melihat dari satu bahan yang terkandung dalamnya (Food Therapy).

Mungkin sangat sedikit orang penuh energi yang mau mendengarkan saran saya, mungkin karena sudah kebiasaan jadi sulit berhenti. Namun, alasannya mungkin juga karena mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi dalam perut mereka sendiri, sehingga perubahan yang terjadi didalam saluran pencernaan tidak dipedulikan, dikemudian hari, setelah jatuh sakit baru menyesal. Berbeda ketika bagian luar tubuh menampakkan perubahan fisik, kita cenderung menanggapi dengan serius. Kebotakan, keriput, lemak, atau kulit kendur membuat resah dan menghabiskan waktu dan uang untuk mengatasi kondisi tersebut.

Semua obat, baik yang memakai resep maupun tidak, pada dasarnya berbahaya bagi tubuh dalam jangka panjang, termasuk obat-obatan herbal. Baik produk kimia maupun herbal tidak mengubah kenyataan bahwa obat-obatan asing bagi tubuh.

Obat-obatan tidak dapat menyembuhkan penyakit hingga mendasar, satu-satunya cara mendasar terletak pada gaya hidup kita sehari-hari.

Untuk membentuk satu tumor diperlukan beberapa ratus juta sel, oleh karena itu diperlukan lebih dari waktu sebentar untuk membentuk sebuah tumor. Kanker adalah sebuah penyakit gaya hidup. Sel-sel ini bagaikan sekumpulan bom waktu yang ditanam di seluruh tubuh anda, faktor seperti karakteristik keturunan dan lingkungan tempat tinggal menentukan bom mana yang akan meledak pertama. Bagi yang mengonsumsi banyak makanan mengandung zat-zat kimia pertanian dan bahan tambahan makanan, hati- mengontrol proses detoksifikasi – mungkin lokasi pertama bom meledak. Bagi yang suka makan tidak teratur dan sering minum teh atau antasida, bom dalam lambung mungkin meledak terlebih dahulu.

Kanker bukanlah sebuah penyakit terlokalisasi yang hanya menyerang satu bagian tubuh, tapi mempengaruhi tubuh keseluruhan.

Untuk memahami mengapa seseorang jatuh sakit, penting untuk memahami keseluruhan sejarah kebiasaan makan orang tersebut – dengan kata lain, kapan makannya, apa yang dimakan, dan berapa sering memakannya.

Banyak orang berkeluh kesah tentang mengapa mereka sakit, jatuh sakit bukanlah hukuman Tuhan. Dalam sebagian besar kejadian, penyakit tidak ditentukan oleh genetika, hampir semua adalah akibat dari kebiasaan-kebiasaan yang telah terakumulasi selama beberapa waktu.

Empat puluh tahun telah berlalu sejak saya menjadi seorang spesialis endoskopi gastrointestinal (lambung dan usus). Sepanjang masa itu, saya bekerja sama dengan para pasien untuk menemukan cara menjalani hidup yang sehat.

Kesehatan jangka panjang adalah hasil dari tingkah laku dan kebiasaan yang sehat. Memperbaiki gaya hidup sehari-hari jauh lebih penting daripada mengandalkan keampuhan operasi atau obat-obatan.

Tidak satupun pasien saya pernah menderita kanker lagi. Karena mereka dengan serius memiliki keyakinan dalam mendukung tubuh mereka, dengan menjalankan diet gaya hidup sehat setiap harinya. Diet dan gaya hidup keajaiban enzim, mampu melaporkan hasil klinis tingkat muncul kembalinya kanker sebesar 0%.

Agar anda dapat menjalankan hidup berumur panjang dan sehat, janganlah disesatkan oleh suara-suara yang datang dari luar, condongkanlah kepala anda dan dengarkanlah suara-suara dalam tubuh anda sendiri.

Anda adalah apa yang anda makan. Penyakit, hidup dan kesehatan adalah hasil dari yang dimakan sehari-hari.

Masa Hidup manusia lebih singkat dari masa hidup virus. Marilah menjalaninya dalam keadaan sehat, bahagia dan penuh vitalitas. Betapa sayangnya kehilangan hidup pendek dan berharga dengan rasa benci dan takut, makan sembarangan, dan menderita dalam kesehatan yang buruk dan tenaga yang lemah.

Prof. Dr. Hiromi Shinya (di kutip dari buku The Miracle of Enzym)

Friday, October 16, 2015

Kebakaran Lahan = Penyakit Kronis



Salah satu permasalahan yang slalu terjadi setiap tahun di Kecamatan dampinganku (khususnya) dan Kalsel pada umumnya adalah kebakaran hutan/lahan yang berdampak salah satunya kabut asap, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dan berbagai "penyakit"

Kerusakan Alam tersebut tidak bisa diatasi secara instant, karena proses merusaknya juga telah lama... Asap tersebut hanya "Akibat" dari Sebab yg Kronis...

PENYEBAB :
"Pembukaan lahan" kemudian melakukan land clearing, pembersihan lahan dg budaya lama "mereka" adalah dengan membakar, ini salah satu penyebab utama...

Semestinya hal tersebut tidak dilakukan lagi karena...

Lahan gambut  menjadi rusak saat kebakaran, lahan gambut bisa menyimpan "sekam" api dikedalaman lahannya hingga bertahun-tahun

Lahan Gambut akan sangat sulit dipadamkan apinya, krn secara fisik di lahan atasnya bisa padam bahkan tergenang air, namun di bawahnya banyak api...

Dari lahan gambut ini saja tanpa perlu dibakar, saat musim kemarau tiba akan bisa menimbulkan api sendiri dari dalam sekamnya..

Pada musim penghujan keadaan ini hampir tidak ada masalah, karena bara tersembunyi di bawah permukaan tanah. Tetapi tidak pada musim kemarau, sehingga pemicu sedikit saja, akan berakibat besar...

DAMPAK

Kebakaran hutan dan lahan berdampak luas terhadap kerusakan lingkungan dan dampak sosial ekonomi, seperti :

Kerusakan tanaman hutan dan pepohonan, vegetasi lain dan satwa liar yang ada sebagai akibat kebakaran yang dapat menyebabkan hilangnya sumber daya genetika ( pembawa sifat keturunan) dari pepohonan, tanaman, vegetasi dan satwa liar tersebut.

Bio-fisik, adalah rusaknya sifat fisik tanah akibat hilangnya humus dan bahan-bahan organik tanah yang menyebabkan tanah menjadi terbuka terhadap panas matahari dan aliran air permukaan. Hal ini menyebabkan tanah mudah erosi dan tingkat air tanah menurun.

Kebakaran yang terjadi secara berulang dikawasan yang sama dapat menghabiskan lapisan organik serta mematikan mikroorganisme yang sangat berguna bagi kesuburan tanah.

Selain itu,
Kebakaran yang terjadi kawasan lereng didaerah hulu sungai yang berulang, berakibat menurunnya mutu kawasan yaitu menyebabkan erosi tanah dan banjir yang berdampak pada pendangkalan terhadap saluran air, sungai, danau dan bendungan.

Dampak lain dari kebakaran adalah rusaknya lingkungan, yaitu menyebabkan adanya gangguan cuaca sebagai akibat asap kebakaran yang mengganggu lapisan atmosfir

PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN

Kerusakan yang dilakukan sudah puluhan tahun berakibat sangat kronis, cara mengatasinya tidaklah gampang, perlu usaha yang lumayan panjang...

Karena sebenarnya masalah ini berawal dari pembukaan lahan, tetapi sebagai masyarakat biasa kita tidak dapat menghentikan "pemberian iji-ijin" perusahan tersebut...

Salah satu yang bisa dilakukan oleh masyarakat mulai sekarang adalah melakukan perencanaan Konservasi lahan-lahan yg rusak terutama gambut, hasilnya mungkin akan cukup lama...
Tetapi lebih berguna dari cuma sekedar "mengeluh"...

Kunci mengatasi kebakaran hutan dan lahan  ada di perendaman (rewetting), pembuatan embung salah satu cara...

Embung akan digunakan sebagai salah satu sumber air alternatif yang digunakan untuk memadamkan api jika kebakaran lahan kembali terjadi.

Pembangunan sekat kanal dan embung air dapat menjadi salah satu jalan keluar untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan gambut yang sulit dipadamkan.

Sekat akan menjaga kadar air di lahan gambut, atau membuatnya tetap basah, sementara embung dapat menjadi sumber air saat melakukan pemadaman.

Pembangunan sekat kanal berisi air sangat diperlukan sehingga rembesan air dapat memadamkan api di lahan gambut.

Tujuan pembuatan embung ini adalah untuk menampung selama musim hujan dan persedian air selama musim kemarau. “Kalau musim hujan bisa  ditampung dan kalau musim kemarau mempunyai persedian air untuk mengatasi krisis bahan baku air bersih

Dikutip dari berbagai sumber


Analogi :
Kalau saya sederhanakan, permasalahan ini adalah ibarat penyakit parah... semacam KANKER...

Sebagai pelaku pola makan sehat Food Combining, saya melihat penyebabnya karena pola makan buruk harian selama puluhan tahun...
Untuk mengatasinya memang tidak gampang apalagi kalo telah divonis ga berumur panjang dan memasuki stadium 3 saja, bakal bikin panik...

Pengobatan dg jalan operasi, kemo dsb mungkin bisa membantu sembuh "sementara", tetapi kalau pola makan buruknya tidak diubah, jangan harap bisa sehat... sel kanker akan balik lagi bahkan membuat pasien lebih parah dan...

Mengubah pola pikir dan berdisiplin dg pola makan sehat bukan jalan instan, butuh waktu dan usaha.
Tetapi fakta berbicara, sudah banyak yang akhirnya bisa kembali sehat, sehat yang berkualitas tentunya bukan sekedar sembuh...


Note :
Perencanaan pembangunan bisa memulai dengan memasukkan cara-cara ini di perencanaan pembangunan jangka menengah...

Sunday, October 11, 2015

Antara Korban dan Pelaku Kekerasan




Semakin maraknya pemberitaan kasus kekerasan terhadap anak, membuat saya ingin menyampaikan pendapat berdasarkan pengalaman selama menjadi relawan di youth centre CMR-PKBI Daerah Kal-Sel, juga berbagai hal yang saya lihat dan dapati ntah sengaja atau tidak sengaja.

Fokus di YC memang terhadap remaja, tapi tentang kekerasan polanya berlaku sama baik terhadap anak-anak, remaja dan perempuan.

Kasus-kasus kekerasan sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala, tetapi terbatasnya media sehingga tidak terekspos seperti sekarang ini

Ketika kita ingin mengatasi suatu masalah, maka yang pertama harus diketahui dulu apa penyebabnya, sehingga yang ideal adalah pencegahan agar jangan sampai terjadi.

Sudah banyak para pakar menyampaikan berbagai cara untuk mencegah agar tidak terjadi kekerasan, tetapi ternyata kasus kekerasan tidak berkurang juga.

Tidak tepatkah cara pencegahan tersebut? Tentu saja bagus sekali cara-cara pencegahan yang mereka sampaikan.

Tetapi digunakan atau tidak, disanalah masalahnya, sebatas dibaca atau didengarkan, tetapi pengaplikasiannya masih minim.

Saya ambil contoh, kurang harmonisnya komunikasi antara orang tua dengan anak adalah salah satu penyebab.
Para pakarpun menyampaikan agar orangtua lebih baik lagi dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka, harus menyenangkan, harus benar, komunikatif, dsb

Terbangunkah sudah komunikasi tersebut? Kemungkinan besar masih banyak yang belum terbangun.
Padahal komunikasi yang baik sangat berdampak signifikan.

Bagaimana anak mau bercerita tentang kesehariannya, teman-temannya, kegembiraannya, kesedihannya, dsb, apabila orangtua tidak mampu membuat anak bercerita, atau ketika anak bercerita malah dicuekin... akhirnya anak lebih senang bercerita ke " orang lain" yang bisa jadi salah satu "pelaku" nantinya.

Sebagian orang tua yang saya lihat, lebih sering mendikte anaknya, bahkan cenderung sering menyalahkan. Kamu tidak boleh ini, kamu tidak boleh itu, jangan begitu, jangan begini.

Dari sudut pandang saya, pencegahan awal dan utama harus dari dalam rumah (keluarga). Tetapi kalau dalam keluarga sendiri penyebabnya, bagaimana bisa mencegah?

Berarti tarik kebelakang, kenapa sebuah keluarga malah menjadi penyebab kekerasan terhadap anak?
Banyak kemungkinan, dari belum siapnya secara lahir batin untuk berumah tangga, sampai memang belum memahami makna berumah tangga, serta pemahaman memiliki anak karena status penerus keturunan saja.
Menikah karena dipaksa atau terpaksa, berdampak juga akhirnya terhadap anak-anak mereka.

Jadi, bagaimana orang tua mau mengajarkan agar anak bisa asertif, kalo orang tuanya sendiri tidak paham apa itu asertif.

Bagaimana anak bisa diberi pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga diri serta kemampuan berfikir kritis. Kalau setiap anak berpendapat tidak didengarkan.

Bagaimana bisa membuat anak merasa berharga dengan dirinya, kalau orang tuanya sendiri sering menyalahkan mereka.

Ini baru satu contoh lho, masih tentang komunikasi.
Bagaimana dengan cara pencegahan lainnya...????!!!!

TENTANG KEKERASAN
Kata kekerasan terjemahan kata violence, artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang.
Kekerasan itu banyak bentuknya, dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, kekerasan psikis, dsb.

Saya ambil contoh kembali, yang sedang hangat sekarang berawal dari kekerasan seksual, sampai berujung pembunuhan

Saya bahas dari sisi pelaku, dampak dari dorongan seksual yang tidak bisa dikontrol juga dampak pemakaian narkoba, membuat pelaku begitu tega memperkosa dan membunuh karena si korban yang tidak bisa dikendalikan.
Berbeda dengan korban sebelumnya, yang tidak sampai dibunuh, yang bisa jadi si korban masih bisa dikendalikan pelaku.

MENGAPA SAMPAI BISA TERJADI PEMERKOSAAN?

Sejak zaman dulu pelecehan seksual dan pemerkosaan sudah sering terjadi. Faktor penyebabnya ditengarai adalah rasa dorongan seksual yang tidak dikendalikan dengan baik, dan kuatnya budaya patriarkhi yang beranggapan bahwa laki-laki lebih berkuasa, sehingga perempuan dianggap sebagai kaum lemah, harus patuh nurut.

Sekarang ini, kasus tersebut semakin banyak terjadi ditengarai selain hal-hal tersebut, juga sebagai akibat pengaruh tontonan dan bacaan yang penuh kekerasan dan relasi timpang.

Kurangnya edukasi kesehatan reproduksi membuat seseorang tidak dapat mengelola dorongan seksnya dengan baik,  maka hal ini menimbulkan perilaku yang salah sebagai cara penyaluran dorongan seksualnya.

BAGAIMANA MENCEGAH KEKERASAN?

Pencegahan tindak #Kekerasan menurut saya bisa dilakukan agar tidak terjadi korban dan juga pencegahan agar tidak bertambahnya para pelaku".

Disini saya lebih fokus pada kurangnya bahkan tidak didapatkannya pengetahuan #KesehatanReproduksi, #PendidikanSeks, #SexEducation, yang baik dan benar sehingga berdampak besar " melahirkan" korban & pelaku.

Banyak pakar menyampaikan, para pelaku kekerasan sebenarnya dulunya juga adalah "korban". Karena tidak atau kurang maksimalnya penanganan terhadap "mereka" akhirnya berbalik arah "mereka" menjadi "pelaku".
Yaaa, pada dasarnya semua manusia itu memang baik, dilahirkan masih suci tanpa sehelai benangpun, yang membedakan hanya pada perbedaan biologis (alat kelamin)

Orang tua nya lah yang pertama akan mencoretkan tinta berwarna apa kepada anak-anaknya. Sehingga konsep awal anak akan seperti apa dan menjadi apa, (ekstrimnya, korban atau pelaku atau bukan keduanya) akan tergambar.

Tugas orang tua bukan hanya sebatas fisik (mencukupi kebutuhan makan, pakaian, mainan), tetapi juga orang tua harus memberikan kasih sayang tulus, membekali anak-anaknya dengan pengetahuan, keterampilan menjaga diri, memberikan ruang berfikir kritis, dan juga membuat anak merasa berharga.

Berat sekali kah tugas orang tua!?
Harusnya tidak, kalau sebelumnya sudah memahami dan membekali diri, juga terus memperkaya diri dengan pengetahuan.

Apa yang akan terjadi pada seorang anak kecil polos tidak berdosa, ketika setiap hari "mereka" melihat orang tua nya bertengkar, bahkan terjadi kekerasan dihadapan mata mereka?! (Kemungkinan menjadi korban atau pelaku?!)

Apa yang akan terjadi pada anak kecil polos tidak berdosa, kalau sering kali "mereka" terutama perempuan diberitahu untuk slalu nurut manut,  tidak boleh membantah, tidak boleh kritis, tidak boleh berkembang diluar sana, tinggal dirumah saja, dsb,  intinya jangan "neko-neko"
(Menjadi korban atau pelaku?!)

1 contoh kasus ;
seorang remaja putri kelas 1 SMA, telah beberapa kali mengalami aborsi. Anak ini sangat pendiam, terlihat santun, berjilbab, dan sangat penurut.
Tetapi dibalik itu, dia tidak bisa bersikap aserti ketika dipaksa berhubungan seksual oleh pacarnya.

Contoh kasus lain ;
seorang anak yang telah dilecehkan pamannya sendiri, mengadukan ke orang tuanya, tetapi malah tidak ditanggapi dan dianggap bohong, sampai akhirnya si anak menjadi stress.

Dan banyak kasus lainnya.


Pengalaman saya beberapa tahun silam di Youth Centre CMR-PKBI Daerah Kalimantan Selatan, diantara banyaknya konseling yang masuk, rata-rata remaja yang konseling, kebingungan masalah kespro karena malu bertanya pada orang tua mereka dan kalaupun ada yang bertanya, orang tua mereka malah menjawab ”tabu” untuk dibicarakan (bisa jadi karena orang tua mereka sendiri tidak paham tentang kespro). Jadi apa yang mau dijelaskan?

Bertanya pada gurupun juga lebih malu lagi dan ketika ada guru yang mereka suka dan percayai, guru tersebut juga belum tentu tahu betul tentang kespro.

Akhirnya teman sebayalah tempat mereka curhat, yang belum tentu juga lebih paham dari orang tua dan guru mereka.

Hasilnya adalah kesalahpahaman informasi, membuka situs-situs porno dsb, dan mencoba hal-hal yang belum saatnya, dan juga melakukan tindak kekerasan lainnya.


Penyampaian informasi mengenai kesehatan reproduksi hendaknya diberikan mulai dari rumah oleh orang tua.
Orang tua hendaknya menciptakan suasana hormat, keakraban dan keterbukaan bukan ketakutan. Sehingga tercipta dialog yang baik antara orang tua dan anak-anaknya.

Setiap orang membutuhkan pendidikan seks karena akan memberikan bekal pengetahuan pada seseorang agar lebih memahami dirinya sendiri, sehingga mampu menjaga kesehatannya dengan lebih baik. Dan mengambil keputusan yang terbaik untuk hal-hal yang dengan seksualitasnya.

Akan lebih baik jika pendidikan seks diintegrasikan dalam kurikulum. Sebab kenyataannya, tanpa disadari setiap orang perlu memahami segi seksualitasnya.

Bagi orang tua, pendidikan seks sangat perlu karena jika orang tua kurang memamahami pengetahuan ini maka ia tidak dapat menjelaskan atau tidak tahu bagaimana cara mengkomunikasikan kepada anak-anaknya.

Bagi anak & remaja membutuhkan pengetahuan tentang seksualitas karena mereka memerlukan informasi yang baik dan tepat agar mampu mengambil keputusan yang tepat yang berkaitan dengan seksualitas.

Diambil dari modul Kesehatan Reproduksi PKBI Pusat dan berbagai sumber lainnya

#KesehatanReproduksi #SexEducation #KekerasanSeksual #KorbanKekerasan #MeToo

Sunday, October 4, 2015

Barometer Kesehatan adalah "Perut yang Lapar"



Ada beberapa pertanyaan masuk ;

Tentang porsi yang benar itu seperti apa di Food Combining?
Apakah sepiring? 2 piring? 3 piring? sebaskom? atau segelas? 2 gelas? sebotol? Atau seberapa?

Jam berapa baiknya makan ini? Jam berapa boleh makan itu? Bisa ga makan ini setelah jam itu?

Kenapa dalam FC makannya harus diatur-atur gitu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, dalam penjelasan seputar juklak FC, sebenarnya sudah tersurat & tersirat.
Dalam FC tidak ada hitung-hitungan porsi maupun kalori. Makanlah ketika perut kosong atau lapar, berhentilah ketika kenyang.

Ketika tubuh memberi sinyal lapar, segera beri asupan sesuai ritme sirkadian, jangan ditunda apalagi dicuekin...
Ketika tubuh memberi sinyal kenyang, berhentilah, jangan teruskan.
Karna hal-hal tersebut akan menyiksa pencernaan kita...

Kalo menurut dokter Shinya, Barometer Kesehatan adalah "Perut yang Lapar"

Memilih bahan makanan yang baik, dan sekaligus juga berhati-hati untuk menjaga " kebiasaan makan teratur", sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan.

Kebanyakan orang berusaha makan dg menetapkan waktu, misal sarapan jam 7 pagi, maksi jam 12 siang, lalu jam 3 sore kudapan, serta sekitar jam 6 makmal.

Usaha seperti ini pun tidak bisa dinilai buruk, tetapi yang lebih penting adalah " makan setelah betul-betul merasa lapar". Makan meskipun masih belum lapar - tapi hanya karena sudah waktunya - sama sekali bukanlah cara yang bagus.

Jika organ pencernaan sehat, dalam jangka 3-4 jam setelah makan, makanan akan tercerna, dan kita merasakan "perut lapar" . Karena itu, orang yang sehat, bukan orang yang makan dengan mematok jam-jam tertentu, melainkan orang yang merespon rasa laparnya dan langsung makan, dan sebagai hasilnya, ia makan pada jam-jam yang hampir sama setiap harinya, atau dengan kata lain menjalani pola makan teratur.

Andaikata anda tidak merasakan lapar saat lambung mestinya kosong, tandanya organ pencernaan sudah melemah, atau dengan kata lain, anda harus memikirkan sebagai akibat kekurangan enzim. Terutama bagi anda yang tidak merasa lapar ketika bangun pagi, anda boleh yakin bahwa jumlah enzim tubuh anda tidak mencukupi.

Perasaan lapar itu sesungguhnya barometer kesehatan.
Sebaliknya, bagi anda yang meskipun makan melulu dan terus-menerus merasa lapar, sehingga terlalu banyak makan, anda pun sedang mengalami kekurangan enzim.

Bagi orang-orang yang bermasalah seperti ini, tindakan yang paling efektif adalah " banyak-banyak mengunyah".

Orang yang tidak merasakan perutnya lapar, dg cara ini dapat mengurangi beban lambung dan ususnya sehingga bermanfaat untuk menghemat enzim tubuh

Pun orang yang terlalu banyak makan, dg cara ini maka pencernaan dan penyerapan akan membaik, sehingga unsur gizi yang tidak bisa diproses dg baik selama ini menjadi dapat diserap tubuh.

Sebagai patokan jumlah kunyahan, minimal 30 - 50 kali, untuk makanan alot dan sulit cerna kira-kira 70 kali. Idealnya sampai makanan menjadi sangat lunak, tidak bisa digigit oleh gigi dan dengan sendirinya tertelan ke kerongkongan.

Mengenai jam makan, satu hal yang hendaknya anda perhatikan, yaitu menyelesaikan makan saat matahari masih ada. Terutama perhatikan jam makan malam.

Apabila makanan masih tersisa didalam perut saat tertidur, bisa-bisa terjadi arus balik, dan berisiko terkena radang paru-paru dan sindrom apnea tidur.

Meskipun tidak menjadi seserius itu, bila tidur dengan makanan tersisa dalam lambung, lambung jadi tidak enak, kualitas tidur pun terganggu, dan karena keletihan tubuh tidak hilang seluruhnya, dan menjadi rasa lelah yang tak kunjung pergi.

Dikutip dari buku Terapi Enzim, Prof. Dr. Hiromi Shinya, MD


Sempat dan sengaja berdiskusi dg pakar Food Combining Erikar Lebang seputar hal ini, karena ini cukup meresahkan saya...
Saya copaskan dimari...
Seperti sering beliau kulwitkan, Hidup sehat itu basisnya rutinitas sesuai aturan

Misal ada pertanyaan, habis cheating nih, mau netralisir, boleh ga  ngejus sayur diluar waktu cerna aka sudah masuk waktu serap?
Ngejus sayuran dg tujuan netralisir cheating ya jelas ngawur, Itu kan tindakan sesekali


Kemudian, ada lagi pertanyaan, perutku sudah kenyang nih, tapi blom konsumsi jus sayur untuk malam ini, ga ketabung dong enzim saya, gmn nih?

Tujuan ngejus sayur untuk nabung enzim, sedangkan saat itu perut sudah kenyang...
Alasan nabung enzim juga sesuatu yang berlebihan, apa yang mau ditabung kalau pencernaannya disiksa duluan?

Sebaik apapun itu, malah akan menyebabkan rusaknya keseimbangan secara keseluruhan.
Konsumsi berlebihan dan ketimpangan pada satu hal saja, sama buruknya dengan kekurangan hal yang diperlukan.


‪#‎FoodCombiningItuGampang‬ ‪#‎FoodCombining‬ ‪#‎Lapar‬

Happy SaBu All :D


Gambar diambil dari PP Suhu EL

Saturday, September 19, 2015

Fakta Dibalik Teh



Sebanyak 70% cairan tubuh manusia adalah air. Didalam kadar air ini terlarut semua hal penting bagi kelangsungan hidup organisme, seperti bermacam unsur nutrisi, informasi dll.

Pengangkutan zat gizi, juga pengeluaran zat buangan, semua melalui perantara air. Oleh karena itu, dengan hanya minum air yang baik, itu saja sudah memperlancar pengeluaran toksin, melancarkan peredaran darah, dan mendorong kinerja bakteri dalam usus dan enzim tubuh.

Teh, jus "pabrikan" dan minuman soda adalah air yang sudah dicampuri bermacam-macam zat lain. Saat masuk kedalam tubuh, zat-zat asing yang terlarut dalam minuman seperti itu harus disingkirkan terlebih dahulu.

Misal tanin dalam teh, dan kafein dalam kopi, setiap kali diminum ada toksin (racun) yang harus dinetralkan, sehingga menguras enzim. Kemudian kadar gula yang terlalu tinggi meningkatkan risiko diabetes, obesitas dan hiperglikemia (gula darah tinggi).
(Prof. Dr. Hiromi Shinya)

Kali ini, kita akan membahas mitos dan fakta seputar teh. Saya lampirkan juga kulwit pakar #FoodCombining Erikar Lebang terkait tentang Teh sebenarnya bukan minuman kesehatan, malah menjadi berbahaya ketika rutin di konsumsi

Yuk baca dan simak perlahan, semoga membuka wawasan dan bermanfaat bagi yang membutuhkan...


Mengapa saya selalu mengatakan minum teh itu berbahaya bagi kesehatan? Padahal sebenarnya ada beberapa manfaat dari minum teh #KibulanSehat

Polifenol adalah salah satu antioksidan penting yang sering disebut sebagai alasan mengapa teh wajib diminum utama teh hijau #KibulanSehat

Juga sifat -pada beberapa kasus- sensasi sistem cerna dari rasa nyaman hingga kemudahan buang air yang buatnya terkira sehat #KibulanSehat

Teh juga sering diminum sebagai ritual dan berlangsung secara repetitif setiap hari yang buat tubuh membangun ketergantungan #KibulanSehat

Repetisi buat tubuh memproduksi dopamin & endorfin yang terkait rasa nyaman serta ketagihan. Akhirnya tubuh cari sensasi sama #KibulanSehat

Kehilangan itu buat tubuh ‘merasa’ ada masalah, ia beri signal rasa tidak nyaman, kadang parah, bergantung tingkat kecanduan #KibulanSehat

Itu sebab banyak yg pasca meminum merasa tubuhnya tersegarkan! Dan banyak pihak tertipu mengira itu adalah sifat positif teh #KibulanSehat

Padahal sebenarnya ia sedang menumpuk masalah dalam tubuhnya. Itu satu sebab teh adalah ‘silent killer’ yang amat potensial #KibulanSehat

Polifenol teh saat terakumulasi dalam tubuh menjadi tanin yang mudah teroksidasi dan rusak dinding lendir (mukosa) lambung #KibulanSehat

Itu sebab Hiromi Shinya menemukan dari 300.000-an lebih manusia yg isi perutnya ‘diteropong’. Tidak ada peminum teh yang sehat #KibulanSehat

Semua menunjukkan kerusakan lambung dan usus yang pada tingkat parah menjadi pangkal timbulnya beragam penyakit berat tubuh #KibulanSehat

Satu hal lagi kenapa saya katakan teh itu hal buruk dalam kesehatan, karena kebiasaan minum teh sulit diukur dan dibatasi #KibulanSehat

Teh menjadi minuman paling umum pemuas dahaga. Padahal teh adalah ‘pengering cairan’ tubuh yang amat potensial (diuretikal) #KibulanSehat

Minum teh di waktu haus hanya penuhi kebutuhan cairan di level sensasi saja. Sejatinya tubuh ‘kehausan’, utama di tingkat sel #KibulanSehat

Efek pahit sepat dari tanin juga acap diakali dengan penambahan gula dalam jumlah banyak saat minum teh. Ini masalah lagi! #KibulanSehat

Pankreas tubuh akan kewalahan mengontrol kadar gula, akibat teh manis diminum secara banyak dan rutin setiap hari, lalu rusak #KibulanSehat

Teh diminum secara rutin saat santai, saat lelah, saat makan dan saat tubuh punya masalah. Ini bahaya laten yang dimiliki teh #KibulanSehat

Apalagi teh kemasan yang diproduksi dengan dalih praktis, kita tidak tahu apa saja efek merusak zat aditif yang ada disana? #KibulanSehat

Jadi bila rutin minum teh & mengira berbuat baik bagi kesehatan, tapi Anda penderita gangguan lambung dan acap sakit? Koreksi #KibulanSehat

Demikian kibulan siang ini. Suka sukur, gak suka unfollow! Gak follow, berisik? Coba jogging dulu, tapi di jalan tol, dan malam hari! Salam

#FoodCombining #Teh #KibulanSehat

Tuesday, September 15, 2015

Menopause, Anti Penuaan & Pola Hidup Sehat




Memenuhi beberapa permintaan untuk menulis tentang Menopause, bukan ahlinya, tapi saya coba paparkan sedikit dengan mengaitkan perihal "Anti Penuaan" juga pola hidup sehat tentunya sesuai tujuan utama grup ini (sehat berkualitas).

Dari buku Prof. Dr. Hiromi Shinya :
Menurut beliau, penyebab "anti penuaan" menjadi tren seperti sekarang, adalah bertambah banyaknya orang-orang yang gelisah dengan kecepatan penuaan yang tidak sesuai usia sesungguhnya.
Terutama saat dirinya mulai merasakan fisiknya melemah, orang akan mati-matian berusaha menghentikan "penuaan".

Macam-macam metode dilakukan, terutama banyak metode berbahaya dan tidak dianjurkan beliau, dari chemical peeling yang sebenarnya merusak fungsi penjaga kulit yang penting, dan malah berisiko mengundang masalah kulit yang lebih parah.

Satu lagi yang dianjurkan untuk dihindari, yaitu metode menyuntikkan hormon pertumbuhan manusia.

Hormon pertumbuhan merupakan hormon penting yang berhubungan dengan pembentukan tulang dan otot, metabolisme, dsb. Sejak usia dewasa, jumlah yang dihasilkan mulai berkurang. Hormon ini banyak dihasilkan pada usia belasan, pada usia 40an turun sekitar separuhnya, dan pada usia 80an berkurang hingga sekitar 1/20 masa puncaknya.

Penurunan hormon pertumbuhan membawa fenomena penuaan bagi tubuh. Kulit kendur, kemampuan fisik yang melemah, tumbuhnya uban, dan menurunnya seksualitas; semuanya datang dari berkurangnya hormon pertumbuhan.

Menyuntikkan hormon pertumbuhan untuk menghambat penuaan, justru mempercepat penuaan dalam tingkat sel.
Memang memasukkan hormon pertumbuhan dengan sengaja berarti membuat lingkungan yang serupa dengan masa pertumbuhan didalam tubuh. Tetapi tolong diingat bahwa pertumbuhan yang aktif sama dengan terburu-buru menuju proses penuaan.
Kekhawatiran terbesar yaitu menentang hukum alam.

Jika anda sungguh-sungguh menjalankan kehidupan yang sehat, tidak perlu repot-repot memperhatikan cara-cara anti penuaan. Karena metabolisme tubuh kita sesuai dengan ketentuan alam, kita tidak perlu melawan "penuaan".

Menopause juga termasuk "penuaan", dalam arti proses yang alami sesuai kodrat perempuan. Makhluk hidup telah diberikan "panjang usia yang alami", dan tubuh makhluk hidup berubah dengan kecepatan yang paling sesuai agar bisa hidup selama itu. Artinya, "penuaan" juga proses yang perlu untuk hidup maksimal memenuhi panjang usia itu.

Menopause secara klinis didefinisikan sebagai waktu dimana seorang perempuan tidak mengalami menstruasi lagi.
Dalam literatur populer, istilah ini digunakan untuk menyebut 5 tahun sebelum menstruasi berhenti (menopause).

Menopause terjadi karena hormon estrogen dan progesteron tidak lagi diproduksi, sehingga indung telur tidak lagi melepaskan sel telur.

Akibatnya, wanita tidak memiliki sel telur yang bisa dibuahi oleh sperma dan tidak memiliki dinding rahim yang akan luruh menjadi darah menstruasi. Jadi perempuan yang sudah menopause tidak bisa hamil lagi.

Usia menopause pada perempuan berkisar antara 40 - 50 tahun. Tetapi masing-masing orang tidak selalu sama. Hal ini tergantung kesehatan, gizi maupun "keturunan".

Banyak perempuan yang sudah menopause menghindari HUS. Hal ini disebabkan mukosa atau lapisan lendir yang melapisi vagina sudah menipis sehingga pada saat HUS mudah lecet dan menimbulkan rasa nyeri.
Menipisnya mukosa karena hormon estrogen sudah tidak diproduksi lagi. Tetapi rasa nyeri dapat dikurangi dengan memakai pelicin yang berbahan dasar air.

Ada macam-macam penyebab penuaan yang lebih cepat daripada usia sebenarnya. Seperti makanan, air, gaya hidup, hal-hal spiritual, dsb. Konsumsi protein hewani berlebihan, merokok, alkohol, stres, radikal bebas, zat aditif makanan & zat kimia pertanian, dll.

Kebiasaan buruk lainnya, Olahraga yang terlalu keras akan menguras enzim, dan malah menjadi racun bagi tubuh. Konsumsi jenis makanan/minuman yang sama setiap hari dan terus menerus. Terobsesi menerapkan satu hal saja, sebaik apapun itu, malah akan menyebabkan rusaknya keseimbangan secara keseluruhan.

Konsumsi berlebihan dan ketimpangan pada satu hal saja, sama buruknya dengan kekurangan hal yang diperlukan.

Untuk hidup sehat dan panjang umur adalah menerapkan secukupnya hal-hal yang baik untuk tubuh dan sesuai dengan hukum alam sambil memikirkan keseimbangan tubuh anda.

Hidup sehat merupakan metode anti penuaan paling sempurna. Tujuh Kunci Hidup Sehat Dokter Shinya :

1. Menu makanan yang baik
2. Air yang baik
3. Pembuangan yang teratur
4. Pernapasan yang baik
5. Olahraga secukupnya
6. Istirahat dan tidur yang cukup
7. Tertawa dan perasaan bahagia

Jadi, bagi yang telah memasuki usia 40 tahun dst, tidak perlu khawatir dengan semua proses yang akan terjadi, nikmati dengan slalu berpikir positif agar energi bertambah untuk kebahagiaan diri.
Apalagi yang telah mengenal FC, tinggal  disiplin dan konsisten melakukannya, Insya Allah gejala-gejala  pra menopause tidak akan menakutkan seperti mitos yang beredar. Malahan ketika memasuki usia 40an, seseorang telah sampai pada usia dewasa dimana seharusnya semakin bijaksana karena ditempa pengalaman & wawasan yang lebih banyak dan berwarna.

Salam sehat dan smoga bermanfaat buat yang membutuhkan

#FoodCombining #FoodCombiningItuGampang #AntiPenuaan #Menopause #GayaHidup

Dikutip dari buku Terapi Enzim, Hiromi Shinya, MD dan Modul Kesehatan Reproduksi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat

Gambar diambil dari berbagai sumber

Monday, September 7, 2015

Risiko Reproduksi dan Pola Makan Sehat

Minggu ini dapat kabar ada rekan yang meninggal dunia setelah melahirkan, dan ada rekan lain yang anaknya meninggal dunia setelah berbulan-bulan di RS & telah operasi. Kedua berita ini sangat berkaitan dengan risiko reproduksi.

Karena 2 kejadian tersebut saya jadi ingin bicara seputar risiko reproduksi dan bagaimana penanganannya.

Sebagai relawan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), 2 kasus ini bukan hal baru bagi saya. Selain itu, beberapa tahun silam, beberapa teman & rekan saya pun ada yang meninggal dunia setelah melahirkan. Kakak tertua saya sendiri mengalami proses risiko reproduksi yang berujung anaknya meninggal dunia

Mari kita bicara apa itu risiko reproduksi, terkhusus tentang kehamilan berisiko tinggi.

Saat terbaik bagi perempuan untuk hamil adalah antara usia 20 - 35 tahun.



Kehamilan dibawah usia 20 tahun berbahaya karena organ-organ reproduksi belum sempurna, hal ini nantinya akan menyulitkan proses kehamilan dan persalinan. (Keguguran, bayi lahir prematur, pendarahan, dsb)
Secara psikologis penting kesiapan mental & jiwa bereproduksi diusia belia, juga posisi tawar perempuan yang lemah bisa berdampak kepada janin nantinya.

Sedangkan kehamilan diatas usia 35 tahun juga berbahaya karena akan ada kecenderungan mengalami pendarahan setelah melahirkan, selain itu ada kemungkinan besar mendapatkan kualitas bayi yang kurang baik (kualitas sel telur sudah mulai berkurang) dan risiko kematian ibu & bayi. (Pendarahan, keguguran, bayi lahir prematur, dsb)

Selain itu, jarak yang terlalu dekat antar anak juga tidak kalah berisikonya, dimana organ-organ reproduksi yang masih proses pemulihan untuk mengembalikan fungsinya, dipaksa untuk bereproduksi kembali, ini bisa berakibat pendarahan, keguguran, bayi lahir prematur sd meninggal, dsb.
Secara psikologis pun, anak yang sebelumnya masih harus diberi kesempatan untuk tumbuh & berkembang dengan perhatian penuh.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap harinya dari berbagai belahan dunia dilaporkan setidaknya ada 800 perempuan meninggal akibat komplikasi selama kehamilan.

WHO mengatakan 99 persen kematian didapatkan pada negara sedang berkembang. Rasio kematian ibu di negara sedang berkembang 240 kematian per 100.000 kehamilan, sedangkan pada negara berkembang hanya didapatkan rasio kematian 16 kematian per 100.000 kehamilan.


Banyak perempuan yang meninggal, akibat komplikasi yang mereka dapat sebelum, selama dan pasca melahirkan.
Sekitar 80 persen kematian ibu disebabkan oleh beberapa hal seperti pendarahan berat setelah persalinan, infeksi (biasanya setelah persalinan), tekanan darah tinggi selama kehamilan (pre-eklamsi dan eklamsi), aborsi yang tidak aman.
Kesehatan ibu sangat berhubungan erat dengan kesehatan bayi. Lebih dari 3 juta bayi baru lahir meninggal tiap tahun dan 2.6 juta bayi lahir mati tiap tahunnya.

Melihat dampak risiko kehamilan tersebut, bukan berarti tidak ada jalan keluarnya.
Untuk pencegahan, sebaiknya tidak hamil diusia berbahaya tadi, terutama usia dibawah 20 tahun, karena selain risiko diatas tadi, masih banyak waktu juga untuk bereproduksi.

Bagi yang berusia diatas 35 tahun dan belum memiliki buah hati, akan lebih baik benar-benar mempersiapkan & menjaga diri selama kehamilan, persalinan dan pasca melahirkan.
Hal yang baik pada usia 35 tahun keatas, pemahaman dan gaya hidup biasanya relatif lebih baik daripada di usia 20-an. Seharusnya hal ini bisa membuat lebih mudah untuk menjaga kesehatan kehamilan di usia yang lebih tua.

Tetapi memang kenyataan, beberapa kehamilan ada yang tejadi tanpa persiapan matang, bahkan kehamilan tidak diinginkan (KTD). Sehingga usia yang sudah berisiko membahayakan ibu & anak, ditambah kurang "kepedulian" selama proses kehamilan.


Kehamilan dan Pola Makan Sehat

Dari banyak kasus yang pernah saya temui, termasuk kasus teman, rekan & saudara saya tadi, kebanyakan bersumber dari faktor internal, walau faktor eksternal tetap ikut terlibat.

Orang-orang Banjarmasin kebanyakan  tidak suka dengan sayuran, dan berpola makan buruk harian, sehingga memicu berbagai macam penyakit yang sudah terpendam duluan ditubuh "perempuan". Ini menambah daftar panjang risiko reproduksi diusia berbahaya.




Pun ketika akhirnya bisa melewati proses persalinan, tetapi ketika si Ibu tidak menghasilkan ASI, sehingga bayi yang sudah lahir prematur harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup.

Minimnya pengetahuan tentang bahaya sufor dan pembodohan iklan susu, membuat si bayi yang sudah separo nyawa harus meminum "racun" efek komersialisasi industri.

Lebih lengkap tentang susu sebenarnya bukan minuman kesehatan, bisa baca tulisan ini  :
http://deaedensor.blogspot.com/2015/03/rangkuman-tentang-susu-sebenarnya-bukan.html?m=1

Saya menyaksikan sendiri, bayi kakak saya yang lahir prematur dan kurang "berkualitas" harus minum sufor. Setelah beberapa hari kemudian akhirnya meninggal dunia.

Padahal kakak saya berjuang nyawa dengan kehamilan diusia berbahaya tersebut, sebelum melahirkan hipertensinya kumat parah, belum penyakit lainnya sehingga terjadi komplikasi yang membuat kakak sempat koma beberapa hari.

Sebagai pelaku Food Combining (FC), sekarang saya semakin paham apa yang terjadi dengan kakak saya puluhan tahun silam itu.

KTD karena lupa konsumsi alkon, usia yang sangat berisiko tinggi untuk kembali hamil, punya riwayat hipertensi dsb, pola makan buruk hariannya (pembenci sayur ; sama seperti saya dulu)

Bisa dibayangkan, jangankan membuat janin dan bayi sehat, untuk tubuhnya sendiripun sudah kekurangan banyak asupan gizi. Masih bersyukur, kakak cepat dibawa suaminya ke RS yang "berkualitas", penanganannya cepat sehingga tertolong. Berbeda dengan teman & rekan saya yang telat di bawa ke RS, dan kasus lainnya sudah sampai RS tetapi penanganan lamban sehingga pertolonganpun terlambat.

Beberapa pengalaman pelaku FC yang hamil diusia berbahaya, diatas 35an tahun, menjalaninya dengan mulus dan lancar sampai persalinan serta berlimpah ASI. Ibunya sehat membuat bayipun turut selamat dan sehat serta bonus punya bayi bersih mulus beda dengan anak-anak mereka sebelum berpola makan sehat FC.

Penjelasan lengkap Seputar Food Combining: http://deaedensor.blogspot.com/2015/02/seputar-food-combining.html?m=1


Anak adalah amanah dari Sang Pencipta, hasil buah cinta yang menjadi buah hati, bukan sekedar status sebagai penerus, maupun pengurus balas jasa ketika tua nanti

Hamil, melahirkan, menyusui memang kodrat perempuan, tidak bisa dipertukarkan karena ketentuan dari Tuhan. Karena itu perempuan mempunyai hak atas reproduksi sehat.

Persiapkan diri sepenuh hati, dengan mencari tau segala informasi yang benar secara fakta seputar reproduksi sehat. Tidak mudah kemakan mitos yang malah semakin menyesatkan jiwa & raga.

#FoodCombining #FoodCombiningItuGampang #KehamilanBerisikoTinggi #RisikoReproduksi

Dikutip dari beberapa modul terbitan PKBI Pusat, dan berbagai sumber lainnya